BENCI
BENCI
dari akun facebook gobind vashdev
dari akun facebook gobind vashdev
Jika kita membenci seseorang, biasanya kita berusaha untuk menghindari pertemuan dengan orang tersebut,
kalau dia biasa nongkrong di cafe A, kita akan pergi ke cafe yang lain, begitu pula kalau dia punya toko di jalan B, kita akan memutar ke jalan yang lain.
kalau dia biasa nongkrong di cafe A, kita akan pergi ke cafe yang lain, begitu pula kalau dia punya toko di jalan B, kita akan memutar ke jalan yang lain.
kalau kita mau merenung, yang kita hindari bukanlah orang tersebut, melainkan rasa tidak nyaman yang muncul dari dalam diri karena melihat orang itu atau teringat kejadian lampau.
Menariknya banyak sekali yang mengklaim bahwa orang lainlah yang membuat dirinya marah dan membenci.
Dengan kata lain, banyak yang tidak sadar bahwa kebencian itu ada dan tumbuh di dalam diri, dengan menghindar bukan berarti kebencian itu hilang.
Dengan kata lain, banyak yang tidak sadar bahwa kebencian itu ada dan tumbuh di dalam diri, dengan menghindar bukan berarti kebencian itu hilang.
Ada yang berkata "waktu menyembuhkan", bagi saya yang menyembuhkan itu bukanlah waktu, tapi timbulnya kesadaran baru atau bangunnya seseorang dari kebodohannya.
Sewaktu kita lahir, tidak ada kebencian di dalam diri kita pada seseorang atau sekelompok. Kebencian lebih sering berasal dari program yang tertanam di dalam benak, atau karena kita telah terkondisi oleh lingkungan terhadap bagaimana kita melihat dan bersikap.
Lagu yang kita dengar, film yang kita lihat, buku yang kita baca, sistem kepercayaan dari keluaga sewaktu kita dibesarkan dan sejenisnya adalah hal-hal yang membentuk program di dalam diri ini,
Karena ketidaksadaran seseorang berharap orang lainlah yang harus berubah atau kondisilah yang perlu berganti agar hilang kebencian di dalam diri.
Mereka yang sadar adalah mereka yang bertanggungjawab atas semua emosi yang keluar dari dirinya, bagi mereka tidak ada orang lain yang bisa menyakiti hatinya.
Kalau hatinya sakit, maka yang mereka lakukan bukan mencari jalan keluar namun jalan ke dalam dengan menghadapi dan memeluk semua emosi yang ada.
Mereka yang sadar adalah mereka yang bertanggungjawab atas semua emosi yang keluar dari dirinya, bagi mereka tidak ada orang lain yang bisa menyakiti hatinya.
Kalau hatinya sakit, maka yang mereka lakukan bukan mencari jalan keluar namun jalan ke dalam dengan menghadapi dan memeluk semua emosi yang ada.
Jika kita tidak mengambil jalan ke dalam dan membersikan semua kebencian, bagaimana kita berharap cinta akan berkembang di dalamnya?
Seperti yang kita tahu, saat ini begitu banyak manusia yang bertumpuk kebenciannya, dan dengan bangga menambahnya setiap hari.
Kalau dulu yang di benci adalah orang, sekarang benda di benci, stasiun televisi dibenci, kelompok tertentu dibenci, aliran kepercayaan tertentu di benci, bahkan pemerintah juga dibenci,
Kalau dulu yang di benci adalah orang, sekarang benda di benci, stasiun televisi dibenci, kelompok tertentu dibenci, aliran kepercayaan tertentu di benci, bahkan pemerintah juga dibenci,
saya selalu bertanya-tanya bagaimana seseorang bisa hidup dengan hampir setiap saat yang dilihat menimbulkan kebencian dalam dirinya?
Dan yang selalu saya tanyakan pada diri sendiri ketika saya melihat orang lain yang saya anggap salah dan ada rasa benci keluar dalam diri saya adalah "mengapa saya membencinya?"
"apakah kebencian saya akan membuat orang yang saya anggap salah itu berubah atau bertobat?"
"siapakah yang akan merasa tidak nyaman, apakah orang yang saya benci atau diri yang membenci ini?"
"apakah kebencian saya akan membuat orang yang saya anggap salah itu berubah atau bertobat?"
"siapakah yang akan merasa tidak nyaman, apakah orang yang saya benci atau diri yang membenci ini?"
Dan satu hal lagi bagaimana kita bisa merasa lebih suci daripada orang/perbuatan yang kita benci?
Jika ada orang yang sehari-harinya mengeluarkan kata-kata penuh kebencian dan kita membenci dia, terus apa bedanya kita dengan dia?
Jika ada orang yang sehari-harinya mengeluarkan kata-kata penuh kebencian dan kita membenci dia, terus apa bedanya kita dengan dia?
Mari jadikan mereka sebagai Guru-Guru kita yang memberi kita kesempatan berpraktek welas asih seutuhnya.
Mereka yang berdakwah dan berceramah adalah guru teori yang meminta kita bersabar dan mengasihi sesama, guru-guru ini sering kita puji dan berikan status yang tinggi.
Sebaliknya mereka yang kasar, keras sering kali kita caci, padahal ia adalah Guru praktek yang memberi kita kesempatan melakukan apa yang diajarkan guru teori.
Mereka yang berdakwah dan berceramah adalah guru teori yang meminta kita bersabar dan mengasihi sesama, guru-guru ini sering kita puji dan berikan status yang tinggi.
Sebaliknya mereka yang kasar, keras sering kali kita caci, padahal ia adalah Guru praktek yang memberi kita kesempatan melakukan apa yang diajarkan guru teori.
Seperti minuman beralkohol yang dilarang karena memabukan, begitu pula ketika kita marah hingga membenci, kita terbajak oleh emosi, dan yang tertinggal hanyalah diri yang tidak sadar.
Dari diri yang tidak sadar ini kita bereaksi, memutuskan dan melakukan sesuatu.
Bagaimana kita mengharapkan hasil yang jernih dari pikiran yang keruh?
Bagaimana kita bisa menyembahNYA dengan hati yang penuh kebencian?
Dari diri yang tidak sadar ini kita bereaksi, memutuskan dan melakukan sesuatu.
Bagaimana kita mengharapkan hasil yang jernih dari pikiran yang keruh?
Bagaimana kita bisa menyembahNYA dengan hati yang penuh kebencian?
_/|\_
