RAHASIA DNA DAN KETERKAITANNYA DENGAN KEYAKINAN

Catatan ini diresume dari video seminarnya Bruce Lipton, PhD

Pembuat resume : dr. Oktarina Paramita (Dokter Umum di Bali, Alumni Kelas Privat Vibrasi)

January 9, 2014 at 11:22am







Bruce Lipton memulai ceramahnya dengan satu pertanyaan menarik,”Apa atau siapa yang selama ini mengatur kerja sel? Mengapa ada sel normal dan ada juga sel yang abnormal kerjanya? Siapa yang mengkontrol kerja sel seperti ini?”

Selama ini diduga genlah yang bertanggung jawab mengatur koordinasi sel. Ternyata bukan. Sinyal dari lingkungan yang difilter oleh belief system kitalah yang menyeleksi gen-gen mana yang aktif bekerja. Kerja gen-gen yang aktif itulah yang membentuk behavior/ kebiasaan/ perilaku.

Ini berbeda dari pendapat konvensional yang mengatakan bahwa sifat, kebiasaan diturunkan dari orangtua melalui gen, sehingga itu sudah merupakan takdir genetik kita. Seolah-olah kita ini tidak berdaya mengendalikan hidup kita karena sudah ditakdirkan mengalami nasib seperti apa yang tertulis di gen itu dan kemudian mengalami nasib yang tidak menyenangkan bisa menyalahkan Tuhan, orang tua ataupun leluhur yang sudah mewariskan gen tersebut. Padahal dengan mengubah belief, kita bisa mengubah hidup kita. Mengubah belief bisa dilakukan dengan cepat.

PUSAT KOMANDO SEL
sel merupakan miniatur mini dari tubuh. Dia memiliki semua representasi fungsi-fungsi tubuh yang dijalankan oleh organel-organel sel: fungsi digestif, sensori, reproduksi, respirasi, ekskretori, nervous system. Gen tersimpan di dalam inti sel. Teori lama menyatakan bahwa inti sel adalah pusat komando sel karena gen alias DNA berada di sini. Diduga inti sel adalah otak komandonya sel. Benarkah?

Bruce Lipton mengekstrasikan inti sel tersebut keluar dari sel. Apa yang terjadi? Benarkah sel tersebut akan mati?

Ternyata tidak. Sel itu tetap hidup dan bisa menjalankan fungsi-fungsinya seperti biasa. Tidak terganggu. Ini artinya gen di dalam nukleus tidak berfungsi mengatur koordinasi organela sel. Gen tidak berfungsi sebagai otak pengaturnya sel. Namun bila membrane sel dirusak, kematian sel segera terjadi. Jadi dimana letak fungsi pusat kendali sel?

Bila ditelusuri dari embriologi, dari 3 lapisan germinal yang merupakan cikal bakal perkembangan struktur tubuh, lapisan germinal terluar (ektoderm) akan berkembang menyusun jaringan kulit, otak dan sistem saraf pusat. Bila dilihat bahwa kulit, otak dan system saraf berasal dari akar sel germinal yang sama, maka diduga otaknya sel itu ya terletak di membran sel nya itu (membrane sel itu selaput pembungkus sel, ibarat kulitnya sel). Bila membran sel mengalami lisis atau kerusakan, sel akan segera mengalami kematian.

Dasar teori mengapa membrane sel dianggap sebagai otaknya kulit adalah karena membrane sel menerima sinyal dari lingkungan yang kemudian akan diteruskan ke seluruh bagian sel untuk memutuskan respons apa yang akan diberikan.

Tanpa adanya sinyal yang ditangkap dari lingkungan, sel akan tetap stagnan. Diam. Artinya tidak ada kehidupan. Karena kehidupan merupakan respons terhadap stimuli dari lingkungan. Sebaliknya bila ada sinyal dari lingkungan, membrane sel akan menggerakkan protein menjadi behavior tertentu. Artinya ada kehidupan.
Berdasar kenyataan di dalam sel ini, artinya hidup adalah bagaimana seseorang merespons sinyal/ stimuli dari lingkungannya. Sama sekali tidak berkaitan dengan gen.

Jadi kalau begitu, apa fungsi gen di dalam inti sel? Ternyata Inti sel berperan sebagai gonad, yaitu alat reproduksi sel atau alat replikasi sel. Gen di dalam inti sel berperan sebagai template atau cetakan atau blue print dari kode genetic yang dipilih untuk dibentuk berdasarkan perintah dari membrane sel sebagai respons terhadap sinyal dari lingkungan. Alias gen membentuk behavior/ ekspresi gen yang diperintahkan untuk dicetak berdasar komando membrane sel yang menangkap sensori lingkungan. Jadi gen bukanlah alat intelegensia/ kecerdasan sel. Ia adalah alat reproduksi sel

INTERVENSI LINGKUNGAN YANG MENGAKTIFKAN ON/OFF NYA GEN
Sinyal dari lingkunganlah yang akan menseleksi aktif tidaknya  gen, bukan gen itu sendiri yang mengaktifkan dirinya sendiri. Artinya kendali seleksi gen yang akan kita ekspresikan ada di tangan kita. Kita berpartisipasi aktif memilih apakah gen-gen yang melejitkan diri atau yang melemahkan diri yang harus muncul.

Pernyataan di atas menjawab pertanyaan," bila semua individu memiliki gen kanker di dalam dirinya, mengapa tidak semua orang menderita kanker? mengapa sel kanker itu baru aktif dalam diri seseorang setelah mencapai usia tertentu?"

jawabannya adalah karena on/off nya suatu gen dipengaruhi oleh sinyal dari lingkungannya. bisa berupa makanan (junk food atau makanan sehat), pola hidup sehat atau sebaliknya, bacaan yang dikonsumsi (suka baca tabloid gosip atau buku positif), emosi seseorang (marah, cemas atau gembira dominannya). Sinyal dari lingkungan akan mengaktifkan atau menonaktifkan gen tertentu di dalam diri.

MUTASI GEN
Lalu bagaimana bila seseorang berada dalam lingkungan baru yang penuh tekanan dan stress dan ternyata ia tidak memiliki blue print gen yang bisa merespons kondisi tersebut? Bagaimana cara memunculkan gen yang tepat itu?

Caranya adalah melalui mutasi gen.

Teori lama menyatakan bahwa mutasi gen itu terjadi secara random. Tidak bisa diprediksi kapan terjadinya dan gen macam apa yang akan terbentuk pasca mutasi gen.

Ternyata gen tidak bermutasi secara random. Mutasi genetik diatur oleh sinyal dari lingkungan. Jadi lingkungan memicu terjadinya mutasi gen agar tercetak gen/ blue print baru yang sesuai untuk merespons kondisi baru tersebut.

EFEK BERLEBIHNYA INPUT NEGATIF
Pada kondisi stress, kita menjadi kurang cerdas karena tubuh sedang dibanjiri oleh hormon adrenalin/ hormon stres. Misalnya kita sudah belajar sampai luar kepala materi-materi yang akan diujikan esok hari. Namun apa yang terjadi saat ujian? Pikiran malah blank, tidak bisa mengakses apa yang sudah dipelajari sebelumnya karena mengalami serangan panic, cemas dan stress. Ini termasuk mekanisme fight and flight.

Ini sebabnya orang yang terlalu banyak mengkonsumsi asupan-asupan negatif bagi pikirannya (misal: gosip, berita kriminal, film horor, takut membayangkan masa depan) akan dicengkeram oleh rasa takut yang kemudian memicu keluarnya hormone adrenalin. Banjir adrenalin membuat otak tidak bisa berpikir jernih.

Saat kondisi stress, pertumbuhan menjadi terhambat, kecerdasan menurun dan sistem imun menurun kerjanya.

CARA MENGUBAH BELIEF YANG DIINGINKAN
Seperti halnya kamera yang merefleksikan image yang ditangkapnya melalui lensa menjadi gambar pada film, tubuh manusia pun seperti itu. Apa yang ada dia lakukan di lingkungannya adalah refleksi dari apa yang dilakukannya di dalam pikirannya. Begitu sensori ditangkap oleh pancaindera, ia akan difilter melalui lensa belief system yang diyakininya dan ditransfer masuk ke inti sel untuk membentuk struktur gen/ image yang sesuai.
Jadi belief system menyaring dulu sensor sinyal dari lingkungan. Artinya, gen/ image yang akan terbentuk disesuaikan dengan belief system yang diyakini oleh individu tersebut. Bila lensa belief system nya buram (negative thingking), ya gen yang teraktifkan gen yang tidak memberdayakan. Begitu pula sebaliknya.

Belief system positif/ negative itu sudah sejak kecil ditanamkan oleh orang-orang terdekat kita, mulai dari orang tua hingga lingkungan, Untuk mengubah belief system negatif yang sudah terlanjur tertanam caranya sederhana. Ingatlah bahwa Knowledge is powerful. Dan Lack of Knowledge can Result in Lack of Powerful.

Artinya berdayakan diri Anda dengan pengetahuan yang luas, lalu TENTUKAN belief mana yang mau diterapkan sehari-hari dan buang belief yang tidak memberdayakan lagi.

Jadi ingatlah:
Saya bukanlah takdir dari genetik yang saya warisi.
Saya adalah penguasa hidup saya sendiri.
Saya yang berkuasa menentukan gen mana yang saya aktifkan.
Belief yang tidak tepat bisa saya buang dengan cepat.

Saya sangat powerfull :)

Terima kasih atas resumenya dok, Salam Vibrasi ...

_/|\_

ARIF RH

Popular Posts